Cia's Family [ full bab beli di karyakarsa @Juanscond ]

Cia, gadis berusia 18 tahun itu tumbuh bersama kakek dan neneknya. Walau ia baru 18 tahun, tubuhnya berisi di beberapa spot semestinya. Tak semua tahu, karena ia mengenakan pakaian panjang dan longgar.

Tengah malam, ketika Cia ingin keluar mengambil cemilan. Ia justru melihat kakek dan neneknya tengah bersetubuh di sofa. Tatapannya bersitatap dengan sang nenek yang menghadap dirinya. Pipi Cia memerah, ia mengurungkan niatnya dan kembali masuk ke kamar.

Keesokannya, Cia yang baru saja terbangun melihat keberadaan neneknya di sampingnya. "Nek?"

Santi, wanita tua itu tersenyum menatap cucunya. "Kemarin kamu ngelihat kan nduk?"

Cia terdiam sejenak sebel akhirnya mengangguk pelan. "Iya..."

"Kakekmu itu, walaupun udah tua staminanya masih oke. Kontolnya juga gede, enak kalau digempur."

Cia mengernyit, tak menyangka saja mendengar ucapan neneknya yang begitu frontal. Ketika ia ingin menyela, neneknya berucap terlebih dahulu,

"Mau nyobain? Kayak mama kamu dulu, pernah sekali digempur kakek kamu. Dia bilang enak, malah ketagihan."

Vaginanya Cia berdenyut-denyut, ia bisa merasakan sesuatu mengalir keluar. 

"M-mama?"

Santi tertawa, "iya, kamu jangan kaget. Semenjak mama kamu hamil sama orang lain, kakek kamu marah. Jadinya hukumannya digempur sama kontol bapaknya sendiri. Nenek sih gapapa, biar mama kamu kapok juga."

"Dan juga mama kamu kan selalu pulang tiap sebulan sekali. Pasti malem-malem pas kamu tidur mama kamu dateng ke kamar, minta digempur sama kakek kamu."

Mendengar fakta-fakta mengejutkan itu membuat Cia terdiam, "nenek gak bohong kan?"

"Enggak nduk, ngapain nenek bohong? Ayo keluar, kita tanya langsung sama kakek kamu." Santi berdiri, ia menarik tangan cucunya agar mengikutinya.

Keluar dari kamar, keduanya menghampiri sang kakek– Joko yang asik menonton televisi.

"Tuh tanya sendiri."

Mendengar suara istrinya, Joko menoleh. Ia menatap lekat tubuh cucunya yang untuk pertama kalinya ia lihat tanpa pakaian panjangnya. Hanya celana pendek dan atasan crop bertali tipis di pundaknya.

"Tanya apa?" Sautnya, matanya berfokus ke arah tonjolan di payudara Cia yang mengecap tak mengenakan bra.

"I-itu..." Cia merasa malu, terlebih ia sadar akan pandangan kakeknya ke arah payudaranya. Ketika tangannya ingin menutupi dadanya, sang nenek justru menahan dengan cepat.

"Ngapain? Gak usah malu, lagian cuma ada kakek sama nenek doang."

"Ini loh, Cia gak percaya kalau mamanya pernah kamu gempur mas."

Cia refleks menoleh ke arah neneknya, demi apapun ia benar-benar merasa malu. "Eh, e-enggak!"

"Oh, soal itu aja? Kalau gak percaya tungguin aja bulan ini kan mamamu juga belum kesini. Biar kamu bisa lihat sendiri."

                                    ***

Beberapa hari berlalu, Cia terus-menerus kepikiran tentang apa yang diucapkan kakek neneknya. 

"Cia sayang!"

Mendengar suara familiar itu membuat Cia tersadar, ia langsung berdiri dan keluar dari kamarnya. "Mama!"

"Anak mama~" Tubuh Cia dipeluk oleh mamanya– Sulis. 

"Gimana kabar kamu sayang? Ayo sini-sini, mama beliin kamu banyak baju nih."

Cia nampak begitu tak sabar melihat pakaian yang sudah dibelikan mamanya.

"Nah, yang pertama ada inii..."

Senyum Cia memudar melihat dress pendek yang akan memperlihatkan sembulan payudaranya jika ia pakai.

"Kok dress pendek mah?" Cia mendekat dan melihat langsung ke dalam tas belanjaan.

Semuanya dipenuhi pakaian vulgar.

"Mama sengaja, soalnya kan kamu udah gede. Masa mau pake baju panjang yang monoton gitu? Engga ah, gak jaman."

"Nih, mama juga beliin daleman sama bra." Sulis mengeluarkan celana dalam berenda merah yang bahkan hanya memiliki seutas tali.

Cia melirik kakek dan neneknya, ia merasa malu. Tangannya menyaut dalaman itu dan memasukkannya ke dalam tas belanjaan.

"Mah!" 

Sulis tertawa, "apa sih sayang, ngapain malu? Gak ada siapapun loh."

"Kakek sama nenekmu itu ya pasti tau, kamu juga udah gede. Wajarlah punya baju kayak gitu." 

Santi mendekat, ia memegang pundak cucunya. "Cobain salah satu gih."

Mendengar ucapan mamanya, Sulis merogoh kantong belanjaannya dan mengeluarkan satu set pakaian.
"Nih coba pake ini, sayang."

Cia mengernyit, ia menggelengkan kepalanya. "Gak mau ma."

"Haduh kamu ini, udah ayo mama bantuin." Sulis berdiri dan menarik tangan Cia. Keduanya berada di depan kamar mandi, "nah sana masuk."

Tubuh Cia dorong masuk, Sulis menutup pintu kamar mandi. Tatapannya beralih ke arah kedua orangtuanya dan tersenyum.

"Cepet ya sayang."

Di dalam kamar mandi, Cia mau tak mau melepaskan pakaiannya yang seperti biasa panjang dan longgar. Setelah terlepas, ia memakai pakaian yang sudah diberikan oleh mamanya.

"Udah ma..." Cicitnya malu dari kamar mandi.

Pintu kamar mandi terbuka, Sulis tersenyum senang melihat putrinya. "Tuh kan, mama tau yang pas buat putri mama tuh apa. Sini-sini, tunjukin ke kakek."

Tangan Cia ditarik dan dibawa mendekat tepat depan sang kakek yang menatapnya. Cia yang ditatap sedemikian rupa tanpa sadar beraksi dibawah sana. Pakaian ini membuat lekuk tubuhnya begitu menonjol.

"Gimana pak, cantik kan anak aku?" Sulis menatap putrinya dari atas sampai bawah, ia mengernyit.

"Susu kamu nambah gede ya? Kayaknya bra-nya kekecilan?" 

"Lepas aja bra-nya, gak baik buat kesehatan kalau udah kekecilan gitu nduk." Ujar Santi menyela.

"Yaudah lepas aja sayang bra-nya." Sulis menatap Cia seakan menunggu agar ia melepaskannya.

Cia menggigit pipi dalamnya, "bentar." Saat Cia hendak berbalik menuju kamar mandi tangannya dicekal.

"Mau kemana? Lepas disini aja, sini biar mama bantu." Sulis sedikit menyingkap atasan Cia dan melepas kaitannya.

Dengan menahan rasa malunya, Cia menarik bra-nya tepat di depan sang kakek yang sedari tadi tak melepas pandangan ke arahnya.

"Pokoknya mulai besok kamu gak perlu pake baju kamu yang panjang-panjang itu, harus pakek yang mama beliin. Ngerti sayang?"

Cia melirik ke arah mamanya dan mengangguk.

"Udah, sana duduk dulu disebelah kakek kamu tuh. Mama mau ke kamar dulu, mau mandi." Tubuh Cia sedikit di dorong ke depan.

Santi yang semula duduk pun berdiri, "nenek juga mau keluar dulu, ada janji sama temen nenek."

Kini situasi ruang tamu sepi, Cia yang masih berdiri pun merasa canggung. Ia masih tak nyaman lantaran tak terbiasa tanpa menggunakan bra.

"Kenapa bengong? Duduk sini."

Mendengar itu, mau tak mau Cia pun tergerak duduk di samping kakeknya. Dadanya berdebar kencang.

"Soal waktu itu..."

Cia menoleh, ia menunggu lanjutan ucapan kakeknya.

"Kamu penasaran kan soal mamamu? Nanti malem kamu juga tau jawabannya."

Komentar