Anna menatap rumah temannya yang begitu besar. Masuk ke dalam, Anna melihat seorang pria yang terlihat fokus ke arah korannya. Sepertinya itu ayahnya.
"Yah, ini temen Sela."
Heru menoleh, ia menatap lekat ke tubuh Anna. Anna yang ditatap sedemikian rupa sedikit tidak nyaman.
"Temen Sela mau nginep boleh nggak?"
Anna menoleh cepat, ia mengernyit tak senang atas ucapan Sela tanpa bertanya dulu ke dia.
"Boleh, biar kamu gak kesepian juga sendiri di kamar."
Sela tersenyum cerah, ia mendekat ke arah Anna. "Gak papa ya nginep di rumah gue? Nanti gue izinin ke nyokap lo kok, tenang aja."
Mau tak mau Anna mengangguk, ia melirik ke belakang dan tubuhnya meremang saat ayahnya Sela tersenyum ke arahnya.
***
Malam hari tiba, Anna sudah berganti pakaian tidur milik Sela. Beberapa jam, Sela sudah tertidur. Sedangkan Anna masih menutup matanya sedari tadi namun tak kunjung bisa tertidur.
Suara pintu terbuka, dadanya sudah berdebar kencang merasa was-was. Anna membalikkan badannya ke arah Sela, tak lama terlihat bayangan dari belakangnya. Anna bisa merasakan tangan besar menyentuh pundaknya.
Anna bingung, ia harus bangun atau tetap berpura-pura tidur. Anna merasakan bokongnya dielus-elus, tangan itu bergerak semakin maju dan berhenti di depan vaginanya yang tertutupi celana.
Anna menggigit bibirnya, mana ia tidak memakai celana dalam. Karena celana dalamnya jatuh di kamar mandi, tidak mungkin ia memakai celana dalam milik Sela.
Heru melirik ke arah Anna, ia tau perempuan itu belum tertidur. Jari telunjuk terulur mengelus garis vagina Anna. Heru menurunkan celana yang dikenakan Anna hingga sepaha, ia berbaring di samping Anna dan mengangkat kaki kiri Anna ke atas dan menahannya dengan kakinya.
Heru mengulurkan tangannya, ia memutar-mutar itil Anna. Tangan kanannya menyelipkan ke bawah tubuh Anna dan meremas-remas payudara sekal Anna.
Anna menggigit bibirnya, ia mengepalkan tangannya menahan diri agar tidak mendesah. Matanya menatap ke depan, ia melihat Sela yang tertidur pulas tanpa tau ayahnya sedang meraba-raba sahabatnya sendiri.
"Jangan berpura-pura tidur, saya tau kamu belum tidur."
Anna tersentak, ia tanpa sadar menoleh ke belakang.
"Euh–!" Anna membekap bibirnya saat sebuah jari tiba-tiba didorong masuk ke dalam vaginanya.
"Sela dia gak bakal bangun kalau udah tidur, gak perlu takut ketauan."
Heru merubah posisinya menjadi duduk, ia menarik celana Anna dan melemparnya asal. Kakinya ia buka lebar dan ia tekan.
Pipi Anna memerah, ia berusaha menjauh namun kakinya ditahan begitu kuat. "O-om jangan gini..."
"Gapapa, saya udah lama gak cium aroma memek."
"hnghh!" Anna mendongak saat lidah Heru tiba-tiba terulur menjilati vaginanya.
Kakinya gemetar kecil, vaginanya mengeluarkan lendir sebagai tanda ia terangsang.
Heru meraih kedua tangan Anna dan menahannya, ia kembali menjilati vagina Anna sembari menatap matanya.
"Nnhn ah!! O-omm mmh..." Vagina Anna berdenyut tak karuan.
Heru melepas genggamannya, kedua jari jempolnya membuka bibir vagina Anna. Lidahnya terjulur menekan itil Anna dan menggerakkannya ke kanan-kiri dengan cepat.
"Oughhh ahhh!!"
Jempol Heru menekan itil Anna ke atas dan bawah dengan cepat, ia menegakkan punggungnya dan tangan kirinya menekan leher Anna agar tak menjauh.
"A-ahh nhnn!!! O-omm ahhh ahhh!!!" Kaki Anna bergerak-gerak risau.
Tubuh Anna bergetar, pinggulnya terangkat dan vaginanya menyembur cairan ke depan.
Syurrr!!
Tubuh Anna terjatuh di atas kasur, vaginanya berkedut-kedut dengan rasa puas.
"Baru pertama kali ya? Baru om rangsang gitu udah ngecrot memeknya."
"Mau lagi ngga? Om bikin lebih enak sampe teler kamu nanti."
Anna menatap ke arah Sela dan beralih menatap Heru, ia mengangguk malu-malu. "Mau lagi..."
"Om tutup matanya ya, biar kamu bisa ngerasain memekmu diewe kontol om." Mata Anna ditutup dengan kain dan diikat.
Anna merasa takut, namun ia juga berdebar-debar tak sabar menantikan apa yang dilakukan oleh ayah dari temannya itu.
Heru mengambil sebuah alat pijat getar di bawah kasur, ia membuka kedua kaki Anna dan menyalakan alat pijatnya dengan kecepatan tinggi. Setelahnya ia mengarahkan ke arah itil Anna dan menekannya.
"AHHH!!!" Tubuh Anna terlonjak, kakinya bergetar-getar dan tertutup namun ditahan oleh Heru.
"Ahnghh ahhh ahhh!!! Eunghhhh a-ahh!!!"
Anna meremas bantalnya, mulutnya terbuka mendesah kepuasaan.
"Hnghhh oughhh ahhh!!! Ommmm enakhh enghhhh!!!" Bagian tubuh bawah Anna bergetar, tak lama vaginanya kembali menyemburkan cairannya bening dengan deras.
"HNGHHH!!!!" Belum selesai beristirahat, kepala Anna terdongak saat sesuatu masuk dengan sekali hentakan.
"Nikmatin kontol saya, Anna!"
"Ahhh ahhh ahhh.... Omhhh heunghh!!"
Tubuh Anna terhentak-hentak kencang, matanya membelalak ke atas penuh kenikmatan.
"OUGHHH AHHH!! EUNGHH A-AHH UHH OMMM!!!" Anna melingkarkan tangannya, bibirnya dilumat dengan rakus.
Cup!
"Anna hahh... Memek perawan enakk sshhh hahhh..."
"Gimana rasanya diewe kontol ayah temenmu sendiri hm?"
Heru menarik kain yang menutupi mata Anna, ia menolehkan kepalanya ke samping. "Lihat, anak saya tidur karena saya kasih obat. Dia ngga tau kalau temennya diewe sama kontol ayahnya sendiri."
"AHHH SSHHH OUGHH O-OMMHH ENAKHHH BANGETHH EUNGH~~~"
"S-Selaa ahhh–k-kontoll bokap lo enakhh bangeth ughhh... ENAKHHH BANGETHH heunghh rasanya!!!"
Heru menekan pinggulnya, ia mengeluarkan sperma di dalam rahim Anna. Anna memeluk tubuh Heru, ia menggerakkan pinggulnya tak sabaran.
"Jangann berhentihhh euhhh... Lagii lagii omhhh ahhh ahhh y-yahhh terusshhh uhhh..."
Heru kembali menggerakkan pinggulnya dengan cepat membuat Anna keenakan, pikirannya kosong, ia hanya ingin digenjot oleh kontol Heru dengan kasar!
"ahnghh ahhh!! Yang kasarhhh omhhh!! Genjot Anna yang kasarr eukhh ahhh ahhh!!!"
Payudara Anna disedot dengan rakus, Heru menyentak-nyentak pinggulnya berusaha mendorong semakin dalam.
"OUGHHH HNGHHH!!!"
"Mauu pipishh lagiii nghhhh!!!!" Heru menarik kontolnya keluar, ia menatap memek Anna yang menyembur cairannya.
Tubuh Anna digeser lebih dekat ke arah Sela dan dimiringkan, Heru berbaring di belakang Anna. Ia mengangkat satu kakinya dan memasukkan kontolnya.
"Uhhh..." Vagina Anna meremas kontol Heru kencang, ia begitu terangsang digenjot di depan Sela dalam posisi begitu dekat.
"Suka om genjot depan putri om sendiri? Temen kamu sendiri iya? Lihatin memek mu yang nelen kontol om dalem banget."
Anna menggigit bibirnya, "ayoo gerakinn kontolnyaa eughh ~~"
"Memek lonte! Om bikin memeknya ngucur terus sampe kering!"
"Ahnghh nhh oughhh ahhh!!! Omm ommm ENAKHHH!!! T-terushh iyahhh ahhh!!!!"
Heru menghentakkan pinggulnya begitu cepat dan dalam, ia mengeram penuh semangat.
"Om hamilin yaaa!! Biar Sela ada temennya."
"Unghhh a-ahhh!! H-hamilinnn euhh~~ Anna mau dihamilinn ommm ahhh...!!!"
"d-dalemhh bangethh hnghh oughh omhhh heunghh!! Enakh enakhh heunghhh!!!"
"Om pastiin besok memekmu gak bisa nutup, kempot-kempot kegatelen mau diewe lagi."
"Iyahhhhh anghh!! Mmpphh nnhn!! Mau diewe terusshhh uhhh!!! Memek lacur mau dikontolin tiap hari oughhh ahhh ahhhnnnh!!!"
"Lonte! Makan nih peju om!!!!"
Tubuh Anna yang bergetar hebat dipeluk dari belakang. Haru mengeluarkan spermanya begitu juga Anna yang mengeluarkan cairan beningnya yang kesekian kalinya.
"M-mau kontollh..."
Mendengar lirihan itu, Heru terkekeh. Akhirnya ia akan memiliki istri yang bisa menghangatkan kontolnya.
Komentar
Posting Komentar