"Na, aku mau curhat..."
Anna meletakkan handphonenya, ia menatap wajah Sela yang terlihat sedih. "Mau curhat apa?"
"Soal ayah aku, akhir-akhir ini ayah aku gak tau kenapa jarang pulang. Dan juga kemarin pas kita selesai rayain ulang tahun aku ayah juga gak pulang ke rumah... jujur sedih, ini pertama kalinya ayah gak ngerayain ulang tahun aku."
Anna melirik ke samping sekilas, "kenapa gak nyoba tanya aja? atau engga hari ini minta ke ayah kamu suruh luangin waktu buat pulang."
Sela meletakkan kepalanya ke atas meja, "udahhh, tadi pagi sebelum ayah kerja udah bilang minta ayah pulang. Tapi katanya ayah lagi sibuk banget akhir-akhir ini."
"Gimana ya enaknya..." Jari telunjuk Anna mengetuk-ngetuk meja, "oh! Gimana kalau kasih nomor ayah kamu ke aku, nanti sisanya biar aku urus. Aku pastiin ayah kamu bakal pulang."
"Tapi nanti gimana caranya?" Sela mendongak.
"Udah jangan dipikirin, itu biar jadi urusanku okeyy! Nah mana sekarang nomornya, kirim sini."
"Bentar." Sela membuka handphonenya, ia mengirim nomor ayahnya ke chat Anna.
Ting!
Anna melirik ke arah Sela yang menatapnya, "udah masuk, percayain ke aku oke?"
Sela mengangguk, "iya aku percaya ke kamu."
Anna kembali menatap ke handphone, ia membuka pilihan kirim pesan dan tersenyum tipis melihat history chatnya dengan Om Heru.
Ting!
Anna melihat pesan yang baru saja Om Heru kirim. 'Sel, bokap lo baru aja ngirim foto kontolnya.' Jarinya bergerak mengetik sesuatu.
——
Om Heruu
mmh~~ di depan anna ada sela, dia baru aja curhat soal om yang jarang pulang
jahat om ih, anaknya sendiri ditinggalin terus
Jahat? Kalau om jahat itu memek kamu udah om biarin becek sampe lendir kamu netes-netes di kasur.
Om masih sibuk ngerawat memek kamu yang manja pengen dikontolin sama kontol om terus, sekalian biar gak oleng ke kontol lain.
——
"Na?"
"Ya?" Anna menoleh dan tersenyum, ia mematikan handphonenya dan meletakkannya di meja.
***
Klik!
Anna membuka pintu dan masuk ke dalam, ia sekarang tinggal di apartemen milik Om Heru, keduanya menghabiskan malam yang begitu menggairahkan setiap hari.
Ia melirik ke arah ujung ruangan, terpasang cctv yang pastinya memantau tiap gerak-geriknya. Anna mengambil handphonenya dan mengirim foto dirinya yang baru saja pulang.
Anna berjalan menuju kamar mandi, ia membersihkan diri sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan agar Om Heru mau pulang ke rumahnya.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Anna sudah bersiap diri menyambut Om Heru yang akan datang. Melihat gagang pintu yang bergerak, ia berjalan lebih dekat.
"Om~~" Tangannya terbuka dan memeluk tubuh Om Heru.
Heru terkekeh, ia meremas bokong Anna. "Cantik, mulai sekarang nyambut om telanjang gini aja ya."
Tubuh Anna digendong, pipinya memerah merasakan sesuatu menekan bagian bawahnya. Membayangkan dirinya akan digenjot membuat miliknya berkedut-kedut tak sabar.
"Hari ini Anna mau jadi pelayan buat om~~" Tangan Anna yang melingkar mengerat, ia tersenyum menatap Om Heru.
"Oh ya? Pelayan om apa kontol om?"
"Hmm dua-duanya bolehh~~" Anna terkekeh, "dibawah sini–" ia menggerakkan pinggulnya, "selalu siap ngelayanin kontol besar om..."
"Kalau gitu om mau dilayanin dua-duanya. Om mau makan sambil kamu sepongin." Heru berjalan menuju dapur, ia menurunkan Anna membiarkannya menyiapkan makanan.
Heru menatap punggung Anna, ia melirik ke arah wortel yang ada di meja dapur. Mendekat, Heru mengambilnya dan melangkah ke belakang Anna.
Tangannya yang memegang wortel menurun ke bawah tubuh Anna, ia menggerakkan ujung wortel itu ke itil Anna. "Buka kakinya."
Anna membuka kakinya lebih lebar, ia menikmati gesekan dibawah sana sembari menyiapkan makanan. "Om, hari ini pulang dulu aja ya?"
Heru mendekatkan wajahnya ke sisi kepala Anna dengan tatapan ke bawah, "kenapa?"
Anna sedikit menoleh ke kiri, "kemarin ulang tahunnya anak om sendiri om lupa?"
Gerakan tangan Heru terhenti, "kenapa kamu gak ingetin om hm?" Heru mengarahkan ujung wortel ke depan lubang vagina dan menekannya.
"Eummh..."
"Om pulang dulu, jangan berani-berani keluarin wortelnya... itu hukuman buat kamu." Ia berbalik dan berjalan dengan langkah sedikit cepat.
***
Pintu terbuka, Heru melangkah masuk ke dalam apartemen dan berjalan menuju kamarnya.
"Eunghh a-ahh... Om udah pulang?"
"Baru om tinggal 2 jam aja udah basah kasurnya." Tatapannya beralih ke Anna yang tengah berbaring dengan kaki terbuka dan tangan kanannya yang menggerakkan wortel dengan tak sabaran.
"Eughh a-ahh omm enakk nghh~~" Anna menggigit jari-jarinya dan memejamkan matanya dengan pinggulnya bergerak-gerak ke atas.
"Eughh euhh ahh ahh~~ OUGHH SSHH~~!!" Mulutnya terbuka, Anna membuka matanya melihat vaginanya yang perlahan menyembur cairan bening, ia semakin menggerakkan tangannya.
"AHHH AHH~~!!" Vaginanya berdenyut-denyut sebelum cairan bening keluar lebih deras.
"Mmh hahhh..."
"Sekarang gantian kontol om ya..." Heru melepas seluruh pakaiannya, ia naik ke atas kasur dan mengarahkan miliknya.
"Euhh..." Anna mendesis, ia masih begitu sensitif. Namun sepertinya digenjot saat vaginanya seperti ini akan terasa nikmat.
Tangan Anna terulur memeluk tubuh Om Heru, "cepetin omm Anna mau digenjot kasaarr aahh..."
Heru memposisikan dirinya seperti berjongkok, ia menekuk kedua kaki Anna dan membukanya lebih lebar. "Iya-iya, om tau memek kamu udah gatelen di dalem sana."
Ia menarik pinggulnya dan menyentaknya ke bawah, tubuh Heru benar-benar menekan kedua kaki Anna yang tertekuk. Ia terus menggerakkan pinggulnya naik turun dengan sentakan yang kuat.
Plok!
Plok!
Plok!
"Aaghhh aahh!!" Respon tubuh Anna menggeliat-liat, vaginanya berdenyut-denyut kuat dan mencengkram milik Om Heru.
"Kenapa? Katanya pengen digenjot kasar? Udah om kasih kok malah geter-geter badannya hm?"
"A-aahh hahh... omhh heunghhh shhh ahhh!!" Tangan Anna terulur mendorong dada Om Heru agar berhenti.
Heru menggenggam pergelangan tangan Anna dan menahannya, ia justru menyentak-nyentak pinggulnya ke bawah dengan brutal.
"Enak? Enak kan sayang?"
"E-eukhh ahh!! U-udahh heukhh ahhhh ahh!!"
Kepala Anna terdongak, tangannya terkepal erat dan tubuhnya mulai bergetar hebat. "Eukhh ahh ahh mmphhss!!!"
Heru menyentak miliknya terakhir kali dan mengeluarkan, ia mengocoknya tepat di depan vagina Anna yang tengah mengucurkan cairannya ke atas bak air mancur.
Tubuh Anna begitu lemas, dibawah sana masih berdenyut-denyut dan memberikan sensasi sentruman kecil hingga keseluruhan kakinya.
Tangan Heru mendekap tubuh Anna, ia menatap wajahnya dan mencium bibirnya. "Cantik."
Anna mengerjapkan matanya perlahan, "Kebiasaan... kenapa mujinya pas Anna lemes habis digenjot habis-habisan..."
Heru meremas payudara Anna, "Dimata om kamu lebih cantik pas desah sambil nyebut nama om."
Komentar
Posting Komentar