Kia melirik ke sekitar, ia sebenarnya merasa aneh karena melihat banyak ibu-ibu yang keluar hanya mengenakan lilitan kain. Dan juga ia tak melihat anak seusianya, kebanyakan sudah berumur.
Terus berjalan menuju rumah neneknya, banyak pria berumur yang terus menatap Kia. Dan jujur itu membuatnya sedikit tak nyaman. Akhirnya Kia mempercepat langkahnya, ia nampak lega ketika sudah berada di depan rumah tujuannya.
Hendak mengetuk pintu, gerakannya terhenti ketika melihat dari sela pintu neneknya tengah digenjot oleh seorang pria. Kia mendadak blank, ia terpaku terhadap apa yang tengah dilihatnya.
Melihat bagaimana tubuh neneknya yang terbalut lititan batik digenjot dengan posisi berdiri dan diangkat salah satu kakinya. Kia menelan ludahnya, ia bukan anak polos dan tentu pernah melakukan sex. Bahkan ia berfantasi bisa digenjot oleh pria berumur.
Berbalik badan Kia memutuskan untuk duduk di kursi. Dari sini ia bisa mendengar jelas erangan neneknya. Beberapa menit berlalu, suara erangan neneknya pun berhenti.
"Kia?" Erni, wanita itu terkejut melihat keberadaan cucunya. Ia melirik ke samping, pria yang merupakan tetangganya bergegas untuk pulang.
"Kamu kenapa gak bilang kalau mau kesini?"
Kia menatap leher neneknya yang penuh peluh, bahkan gelungan rambutnya pun berantakan. "Iya, Kia lupa mau ngabarin."
"Kamu disini sampe kapan sayang?"
Kia berdiri, "kayaknya 2 mingguan... "
***
Malam harinya, keduanya tengah bersantai di ruang tamu. Kia melirik lilitan kain yang dipakai neneknya, "dari tadi nenek pakai kain lilit terus? Emangnya gak risih?"
Erni menoleh dan tersenyum, "kamu gak tau ya, di desa ini kan perempuannya harus pake ginian terus sayang."
Kia mengernyit, "harus banget nek? Terus Kia gimana dong?"
"Karena emang udah peraturannya kamu juga harus ikutin, mulai besok nenek siapin ya kainnya."
"Besok kamu ikut nenek ya, soalnya kalau ada tamu baru di desa harus dikenalin ke semuanya."
***
Pagi hari telah tiba, Kia yang sudah selesai mandi melilit tubuhnya dengan handuk. Ia berjalan keluar kamar mandi dan bertanya ke neneknya, "kainnya mana nek?"
Erni menoleh, ia berjalan menuju kamarnya dan kembali keluar sembari membawa kain. "Ini, dalemannya dilepas ya. Gak perlu pake daleman. "
Mendengarnya membuat Kia kembali merasa aneh, walaupun begitu ia tetap menurutinya. Ia kembali masuk ke kamar mandi dan memakainya.
Setelah selesai, keduanya pun kini keluar rumah menuju tempat yang menjadi titik kumpul dari acara perkenalan warga baru. Sampai di tempatnya yang ternyata dekat sungai, Kia bisa melihat banyak warga yang berkumpul. Ia melihat banyak ibu-ibu yang semuanya hanya mengenakan lilitan kain.
"Ayo, mereka udah nungguin."
Keduanya melangkah mendekat, Erni tersenyum ke arah pria yang merupakan tokoh adat di desanya. "Pak, ini cucu saya. Namanya Kia. Kia, ayo sini."
Kia berjalan menuju samping neneknya, ia tersenyum ke arah pria tersebut. "Masih muda, disini jarang ada anak seumuran kamu."
"Ayo langsung mulai saja. Kia, kamu ikut bapak ke sungai ya, kita mau acaranya." Pria itu berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Kia. Sampai di tengah sungai keduanya pun berhenti.
"Kamu nanti harus masuk ke air 3 kali." Kia disuruh berbalik menghadap warga yang tengah menatapnya. Ia tersentak kecil merasakan sentuhan di kedua pundak polosnya.
Tangan itu terulur semakin ke bawah, Kia bisa merasakan sentuhan yang membuatnya meremang. Hingga tangan itu terhenti tepat menyentuh punggung tangannya, secara tiba-tiba kedua tangannya diangkat ke atas.
"Tangan kamu gak boleh bergerak apapun yang terjadi, dalam hitungan ke-3 nanti kamu nunduk masuk ke air."
"1... 2... 3..."
Kia menundukkan dirinya ke dalam air selama beberapa detik sebelum kembali mengangkat ke atas. Kain lilitan basah, dan Kia merasa kainnya semakin turun ke bawah.
Tepat kehitung ketiga, Kia kembali memasukkan dirinya ke air. Dalam keadaan menunduk, Kia bisa melihat setengah puting atasnya mulai terpampang. Tatapan Kia kembali ke depan, ia menggigit bibirnya, entah mengapa ia merasa bergairah. Ia yakin, satu kali lagi masuk ke dalam air, kainnya akan terlepas.
"Terakhir, 1... 2... 3..."
Kia kembali menunduk ke dalam air, ia menegakkan badannya dan melihat ke bawah, benar seperti dugaannya. Kain lilitannya terlepas dan memperlihatkan tubuh telanjangnya di depan warga.
Tangan Kia yang ditahan di atas dilepas, tubuhnya diarahkan menghadap pria yang ada di belakangnya. Kia nampak senang tubuhnya ditatap sedemikian rupa, vaginanya beraksi dengan mengeluarkan lendir.
"Selamat Kia, upacara pertama selesai. Semoga kamu gak kaget ya sama peraturan di desa ini."
"Ini salam perkenalan dari bapak." Pria bernama Suroso itu mengulurkan tangannya menarik puting pink kecoklatan milik Kia.
Kia menunduk, ia menggigit bibirnya dan kembali menatap ke depan. "Kia kayaknya butuh banyak bimbingan soal peraturan desa ini dari bapak."
"Bapak siap bantu kamu, nanti malem bapak ke rumah. Bapak bakal kasih tau semua peraturan di desa ini yang harus kamu taati."
Kia tersenyum, ia memeluk tubuh Pak Suroso. “Makasih bapak.”
Komentar
Posting Komentar