"Mas, kan tetangga sebelah lagi cari orang buat rawat orang tuanya selama mereka pergi ke luar kota. Kalau misal aku kerja disana gimana? Buat biaya tambahan keperluan kita. Kan deket juga di sebelah mas..."
Yadi terdiam sembari menatap istrinya, ia tengah berpikir untuk memberi izin atau tidak. Namun mengingat perekonomian mereka yang memang sedang tidak stabil membuat ia mempertimbangkannya.
"Yaudah, mas izinin. Tapi cuma sampe beberapa bulan aja ya, mas bakal usaha lebih biar kamu gak perlu kerja."
Widia tersenyum, ia menggeser tubuhnya lebih dekat ke suaminya dan memeluknya. "Mas..." Panggilnya pelan.
Mendengar deheman suaminya membuat Widia kembali berbicara, "aku kepengen..." Tangannya terulur meraba perut suaminya dan bergerak turun ke bawah.
Yudi menoleh ke istrinya, "besok aja ya sayang, aku capek... Gak papa kan?"
Gerakan tangan Widia terhenti, ia mendongak dan tersenyum. "Gak papa mas..."
Beberapa menit berlalu, Widia menoleh ke suaminya yang sudah terlelap. Sepertinya memang suaminya lelah hari ini. Widia menunduk, ia memejamkan matanya berusaha untuk tidur.
Namun seberusaha apapun ia mencoba untuk tidur rasanya tidak bisa. Widia merubah posisi tidurnya menjadi terlentang, kakinya bergerak risau. Perlahan tangannya tergerak ke bawah, ia menekan celana dalamnya yang sudah basah.
"Aahh..." Tangan Widia menekan-nekan klitorisnya. Tubuhnya tersentak geli tiap kali ia memainkan klitorisnya sendiri.
Mungkin karena sudah lama ia tidak berhubungan badan dengan suaminya, rasanya tubuhnya begitu sensitif.
"Ouhhh masss..." Ia membuka kakinya lebar, disingkapnya celana dalamnya ke samping.
Jemarinya meraba vaginanya yang sudah banjir oleh lendir. "Pengen dikontolinn uhh..." Gumamnya.
Widia menoleh ke samping kirinya, sembari menatap suaminya yang tertidur jarinya bergerak masuk ke vaginanya. Matanya terpejam merasakan dua jarinya masuk, "aaahh mass..." Ia mulai menggerakkan jarinya keluar masuk.
Tangan kirinya terulur memegang tangan suaminya dan ia arahkan ke payudaranya. Di gerakannya telapak tangannya meremas sehingga tangan suaminya juga seakan ikut susunya.
"Ouhhh... Masssshh aahh..." Jarinya semakin cepat mengocok memeknya. Matanya merem melek keenakan, "aaahh enakkkk.... Enakkk masssshh..."
Tangan kiri Widia kini mengarahkan jari suaminya ke dalam mulutnya. Ia tekan jari suaminya ke dalam mulutnya, seakan menekan lidahnya.
"Oughhh.... Aaahh..." Widia memejamkan matanya erat, pinggulnya mulai menggelinjang risau.
"Memekhh akuu enakk masshh! Ouwh aaahh!!" Pinggul Widia bergetar dan tersentak ke atas. Napasnya terengah-engah, "hahhh..."
Widia kembali menyentuh tangan suaminya dan ia arahkan kembali ke sebelah tubuh suaminya. Ia menatap atap rumahnya sembari mengatur napasnya.
"Kayaknya aku kangen udah lama gak di entot sama mas Yudi..." Gumamnya.
***
Keesokan paginya, kini Widia tengah membersihkan piring makan mereka. Sedangkan suaminya sudah berangkat kerja lebih awal. Setelah selesai mencuci piring ia bersiap untuk pergi ke rumah sebelah.
Dengan menggunakan daster Widia langsung pergi ke rumah sebelah. Ia langsung bekerja hari ini, karena sepasang suami istri itu sudah berangkat keluar kota subuh tadi.
Sampai di depan pintu rumah sebelah, Widia langsung membukanya. Ia mengernyit melihat tak ada pria yang akan ia rawat. "Pak?" Ia berjalan masuk dan menatap sekeliling.
Tak mendapat jawaban membuat Widia melangkah untuk mencarinya. Fokusnya kini ke sebuah pintu ruangan yang sedikit terbuka. Widia berjalan mendekati pintu tersebut, ia terdiam melihat seorang pria yang mungkin sepantaran ayahnya tengah mengocok batangnya dengan risau.
Namun yang menjadi perhatian Widia adalah ukuran batang pria itu yang menggoda. Bentuknya lebih panjang dibanding suaminya, dan lebih tebal. Ia menelan ludahnya, mendadak vaginanya terasa nyut-nyutan. Mungkin efek belum dijejali batang suaminya membuat ia terangsang.
Melihat pria itu yang nampak mendongak dengan tangannya yang mengocok miliknya cepat membuat Widia terpaku. Ia diam mengamati moment di depannya. Melihat pria itu mulai menggelinjang membuat ia tau bahwa pria itu akan klimaks.
"Ouhh!"
Cairan kental agak kekuningan keluar menyembur membasahi tangan serta kasur pria itu. Dengan semburan yang sebanyak itu seharusnya pria itu sudah puas, namun melihat batang pria itu kembali tegang membuat ia tak percaya.
Widia tersentak ketika pria itu menoleh ke arahnya. Ia sontak langsung mengalihkan pandangannya ke samping.
"Kamu yang disuruh Nindy kerja jaga saya?" Widia mengangguk, ia melirik dan terkesiap melihat pria itu berjalan keluar mendekatinya dengan batangnya yang bergoyang-goyang.
Pak Nardi kini berada di depan Anna dengan batangnya yang tegak. Matanya melirik payudara Widia yang menyembul dari dasternya.
Pipi Widia memerah melihat ujung batang Pak Nardi yang berdenyut-denyut. Dengan keadaan menunduk seperti ini justru ia bisa jelas melihatnya, bukannya mengalihkan pandangannya ia hanya diam mengamati batang yang berdenyut-denyut itu.
"Siapa nama kamu?" Tanya Pak Nardi.
"Saya Widia pak..."
Nardi menunduk melihat batangnya, "kamu bicara sama saya tapi sambil ngelihatin batang saya?"
Widia sontak membenarkan kepalanya, ia terlihat tersipu malu. "S-saya gak lihat apa-apa!"
Pak Nardi tertawa mendengarnya, ia berjalan lebih dekat hingga Widia ikut mundur dan punggungnya menyentuh tembok.
Dengan memegang batangnya, Pak Nardi menusuknya ke perut Widia. "Gak lihat apa-apa? Terus ngapain tadi diem ngintipin orang lagi ngocok?"
Widia menahan tubuh Pak Nardi, ia menolehkan wajahnya ke samping. "S-saya gak sengaja!"
Nardi memundurkan tubuhnya, "gak sengaja..." Gumamnya. Ia tersenyum miring, "yaudah, kalau gitu kamu bersihin peju yang di kamar ya... Kamu ditugasin jaga sekaligus bersih-bersih kan?"
Widia mengangguk pelan, "iya..."
Komentar
Posting Komentar