"Jev jangan lama-lama, nanti Kila curiga..."
"Ngga, cepet cuma gesek-gesek doang." Jevan mengarahkan miliknya tepat di milik vagina Anna, ia mengapitnya dengan kedua kaki Anna dan menggerakkannya pinggulnya.
"Hnghh..." Anna menatap milik Jevan, pipinya memerah. Mereka sedang berada di rumah Kila karena ada tugas kelompok, saat Anna izin ke kamar mandi tiba-tiba Jevan menerobos masuk dan menggendong tubuhnya ke atas meja wastafel.
Jevan melirik ke arah Anna yang memejamkan matanya. Secara tiba-tiba ia miliknya masuk dan menyentaknya.
"Euhh... Katanya cuma gesek-gesek? Kenapa dimasukin ahhh..."
Jevan menekan kaki Anna agar terbuka lebar untuknya, ia mendekatkan wajahnya melumat bibir Anna.
"Mmphh hnghh... J-jevv u-udahh ahh..."
"Gue main cepet, jangan keras-keras desahnya."
Jevan menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat, tangannya terulur memutar-mutar itil milik Anna.
"E-eukhhh ahhhh..." Jemari kaki Anna melengkung, tubuhnya menggeliat kegelian.
"Ughh..." Jevan menatap ekspresi Anna, "seksi." Bisiknya.
Jevan mengulurkan tangannya meremas payudara Anna dari luar pakaiannya, "makin gede, gue suka."
Tok! Tok!
"Anna? Belum selesai ya?"
Anna tersentak kaget, ia reflek hendak turun tetapi Jevan menekan kakinya begitu kuat.
"Siapa yang bilang udah?"
"Nanti Kila curiga Jev!" Anna tanpa sadar sedikit meninggikan nadanya.
Tatapan Jevan menajam, ia menggendong tubuh Anna dan melangkah mendekat ke arah pintu.
"Mmh... J-jevan! Mau ngapainnn?!!" Anna panik, ia memberontak.
Bruk!
"Anna? Kamu gak papa kan?"
Anna meringis saat punggungnya didorong ke pintu.
"A-aku gapapa hngh!!"
Jevan terkekeh, "desah yang kenceng, biar Kila tau lo lagi diapain." Bisik Jevan.
"Mmpphh j-jevv ahhhhh hnghhh!!" Anna menggelengkan kepalanya, ia meremas pundak Jevan.
"Kalau udah cepet keluar ya Na."
"I-iyaa... Nnhn a-ah..."
Suara langkah kaki menjauh terdengar, Anna melingkarkan tangannya ke leher Jevan. "J-jevnn pelannhh eughh... Pusinghh ahhh..."
Ia memejamkan matanya, tubuhnya terhentak-hentak kencang lantaran Jevan yang bergerak begitu cepat.
"Punya lo enak banget hahh..." Jevan menjilati leher Anna yang berkeringat.
Tatapan Jevan beralih ke pakaian putih Anna, ia membuka mulutnya dan menjilati tepat di atas payudara Anna yang tertutupi pakaian.
Anna menunduk, ia menatap Jevan yang terus-menerus menjilati payudaranya yang tertutupi pakaian. "Geliii eunghh..."
Jevan menghentikan gerakannya, satu tangannya terulur mengeluarkan payudara Anna hingga menyembul keluar dari pakaiannya.
Jevan menjilat bibirnya, "cantik." Ia meraup puting Anna dan menyedotnya kencang.
"Eukhhh ahhhh hnggh!! Jevanhhh eughhh..."
Jevan menarik pinggulnya dan menyisakan ujung miliknya, ia melirik Anna dan menghentakkan pinggulnya dalam-dalam.
"OUGHHH!!!" Anna mendongak, pinggul hingga kakinya bergetar.
Jevan menarik kepalanya menjauh, ia membuka tanda di sekitar payudara Anna sembari kembali menggerakkan pinggulnya kencang.
Plok! Plok! Plok!
"Ahngnn ahh ahhh!! Jevv nnhhnn ahhh hnghh!!"
"Gue mau keluar." Jevan bergerak lebih semangat, hentakan terakhir ia menekan pinggulnya dalam-dalam.
"Hahhh..."
"Hnghhh!!"
Anna memejamkan matanya erat, ia menikmati pelepasannya dan juga semburan hangat dari sperma Jevan.
Jevan mengeluarkan miliknya, ia menurunkan Anna dan memeluk pinggangnya agar tak terjatuh. Jevan menepuk-nepuk vagina Anna yang meneteskan spermanya, ia membenarkan celana dalam Anna yang menyelip ke samping.
"Gak perlu dibersihin, ntar juga pulang gue genjot lagi."
Anna menyilangkan kakinya, vaginanya benar-benar berdenyut-denyut dan ia merasa tak nyaman karena sperma Jevan yang menetes keluar.
"Gue keluar duluan." Jevan mengelus kepala Anna dan keluar.
Anna merapikan roknya, ia juga keluar dan kembali ke ruang tamu.
"Lama banget, Jevan juga baru dateng. Kalian dari mana aja coba?"
Anna tertawa kikuk, "m-maaf tadi perut aku sakit."
"Hahh, yaudah sini coba liat bagusan yang mana buat tema presentasi?"
***
Anna berdiri pinggir jalan raya, ia sudah pulang dan berjalan agak jauh dari rumah Kila. Tak lama sebuah mobil berhenti di depannya. Anna cepat-cepat masuk ke dalam mobil.
"Nginep di rumah gue hari ini."
"Iya." Anna mengangguk, ia bebas untuk menginap ke rumah Jevan karena orangtuanya sudah tidak ada.
Jevan melirik ke arah Anna, "besok minggu, gue anter buat beli daleman. Payudara lo makin gede."
"Mmh... I-iya..."
Suasana perjalanan begitu hening, Anna nampak tak nyaman dengan posisi duduknya.
30 menit berlalu, mobil Jevan masuk ke pekarangan rumah ia memarkirkan mobilnya ke garasi. Jevan turun, ia membuka pintu mobil dan menarik lengan Anna.
Jevan membuka pintu kamarnya, ia masuk dan kembali menguncinya. "Lepas semua, ayo mandi bareng."
Anna melepas seluruhnya kecuali pakaian dalamnya, tangannya digenggam dan ditarik menuju kamar mandi.
Jevan melepas pakaiannya, ia melemparnya ke tempat pakaian kotor. Ia berjalan ke bawah shower da menatap Anna, "sini, gue mau bersihin sperma gue."
Anna berjalan mendekat, tubuhnya dikukung. Jevan mengulurkan tangannya ke bawah dan masuk ke vagina Ana, jemarinya bergerak membentuk gunting dan semakin dalam.
"Euhh..." Anna meremas lengan Jevan.
Jevan mengeluarkan spermanya dar dalam vagina Anna, ia mengambil shower dan menyalakan. Tangan kiri Jevan yang menggenggam shower terulur ke bawah mengarahkannya ke vagina Anna, sedangkan tangan kanannya kini mengelus-elus itilnya.
"Ahnnn ahhh jevv uhh..."
Jevan meletakkan kembali showernya, ia berjalan ke arah bathub dengan menggenggam tangan Anna.
Keduanya masuk ke dalam bathtub yamg berisi air dingin, Jevan berada di belakang tubuh Anna. Ia mengambil sabun dan menyabuni punggung Anna. Tangannya mulai ke depan, Jevan meremas-remas payudara Anna, ia menarik-narik puting Anna kedepan.
Anna menyandarkan kepalanya ke tubuh Jevan, pinggulnya menggeliat tak nyaman. "Euhhh mmnhhh..."
"Sekarang bersihin memek lo."
Tubuh Anna meremang, ia menunduk menatap tangan Jevan yang semakin ke bawah. "Ahhh jevv hnghhh..." Anna menggigit jarinya, pinggulnya bergerak risau ke kanan dan ke kiri saat Jevan mengelus-elus vaginanya pelan namun menggoda.
"Hmm..." Jevan menyandarkan dagunya ke pundak Anna, ia menoleh ke samping dan tersenyum tipis melihat ekspresi sahabat kecilnya itu.
Jevan mengangkat pinggulnya Anna dan mendudukkan di pahanya. Ia menekan tubuh Anna ke depan dan mengarahkan miliknya masuk.
"Hnghhh..."
Tubuh Anna dinaik turunkan, "ahhh ughhh mmh..." Anna berpegangan ke sisi bathtub.
"Eu–ahh!! Jevv? Hnghhh oughhh..." Kepala Anna tertarik ke belakang.
Jevan menarik rambut Anna, ia menolehkan ke arahnya dan melumat bibir Anna.
"Mmmphh nnnhnn!!"
"Madep gue, Na."
Anna menatap Jevan sejenak sebelum akhirnya memutar tubuhnya, "nnhnn ahh..."
Jevan mengelus kulit halus Anna dari leher hingga ke perut, "gimana rasanya? Pertama kali kan gue genjot lo di bathtub."
Anna mengalihkan tatapannya ia malu, "euhhhh!!" Anna menunduk merasakan itilnya digesek-gesek.
Ia mengangkat kepalanya dan menatap Jevan, "mmh... Enak..." Jawabnya pelan.
"Maju mundurin pinggul lo sendiri."
Anna meletakkan tangannya di pundak Jevan, ia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur.
"Sshhh a-ahh... Hnghh..."
"Enak sambil gue gesek-gesekin itil lo kan?"
"Mmphh i-iyahh ahhnn..."
"Hahhh..." Jevan mengangkat pinggul Anna dan kembali menurunkannya, ia kembali mengulangi gerakannya berkali-kali.
"Ahhh ouhhh jevv ahhh..."
"Jevanhhh eughhh ahhh... Nnhn hnghhh uhhhh..."
Anna menggesek-gesek itilnya, "hnghh jevvvv ahhhh!!!"
Anna memeluk tubuh Jevan, pinggulnya diangkat. Jevan mengocok miliknya dan spermanya mengenai pinggang belakang Anna.
Jevan berdiri dengan Anna digendongnya, ia keluar dan membaringkan tubuh Anna dikasur. "Gue masih mau lagi."
Komentar
Posting Komentar